TRADISI BERLANJUT BUDAYA AUSTRONESIA DI LIMA PULUH KOTO, SUMATERA BARAT

Rr Triwurjani(1*)

(1) Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
(*) Corresponding Author

Abstract

Austronesian diaspora shows that around 60% of Austronesian-speaking people live in Indonesia. Among the locations with traces of Austronesian cultural remains is the  information about the diaspora of Research reveals that the continuing megalithic tradition. The problem is: if megalithic culture was brought by migrants in which Austronesian period did the menhirs should be placed, the proto-historic or recent Austronesian; how is the dispersal pattern of the menhirs; and who were the bearers of the culture. Therefore we have to reveal the form and dispersal of the megalithic culture and Austronesian migration in Lima Puluh Koto Area. The aim of this research is revealing cultural history through the migrant's adaptation within the perspective of Austronesian diaspora. Thus information about the diaspora of the Austronesians and the ethnogenesis of Indoneisan nation can be recognized. Research reveals that the continuing megalithic tradition which is used the  qualitative method and   assumed base on archaeological remains at Lima Puluh Koto area is a distribution of menhirs,  that forms clusters in accordance with nagari (state) at certain area, and they are dispersed up to the hilly area. Some of these menhirs have sacred function but there are also those with profane functions like marks of village, house yard, or street boundaries, as well as the marker of village or hamlet roads.

Keywords

Diaspora; Austronesia; Megalithic; Menhir; Tradition

References

Aziz, Fadhila Arifin, 1977 Batu Tegak (Menhir): Wujud Kreativitas Seni Hias Masyarakat Minangkabau Pada Masa Lampau. Bulletin Amoghapasa 7: 24-30. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Sumatera Barat,

---------------, 2010. “Potensi Situs Arkeologi Kawasan Kerinci, Jambi:

Ikon Budaya Austronesia” dalam Amerta, vol. 28. ISSN 0125-1324 Jurnal Terakreditasi Penelitian dan Pengembangan Arkeologi hlm: 17-44. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional. Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Bellwood, Peter. 1975. Man’s Conquest of the Pacific, Auckland: Collins

----------------- 1995. “Austronesian Prehistory in Southeast Asia: Homeland, Expansion and Transformation”, dalam Peter Bellwood, James J.Fox,

Darrell Tryon (eds), The Austronesians: Historical and Comparative

Perspectives, Canberra: ANU, hlm. 96-111.

----------------, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, Edisi Revisi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

----------------, 2011. “Holocene Population History in the Pacific Region as a Model for Worldwide Food Producer Dispersals”. Current Anthropology Vol. 52, No. S4, The Origins of Agriculture: New Data, New Ideas, pp. S363-S378 The University of Chicago Press on behalf of Wenner-Gren Foundation for Anthropological Research DOI: 10.1086/658181 URL: http:// www.jstor.org/ stable/ 10.1086/658181, Page:16, diunduh 22 nov-2016, 2.21.

Blust, Robert. 1984. “Austronesian Culture History: Some Linguistic Inferences and their Relations to the Archaeological Record”, dalan Peter Van de Velde, eds., Prehistoric Indonesia: A Rider. Dordrecht: Foris Publications, hlm. 218-241.

Bonatz,Dominik.1984-1985. “The Austronesian Homeland: A Linguistic Perspective”, Asian Perspectives 26 (1), hlm. 45-68.

-------------------. 2009. “The Neolithic in The Highlands of Sumatera: Problrms of Definitions”, From Distant Tales: Archaeology and Ethnohistory in the Highland of Sumatera, hlm. 43-74. Cambridge Scholars Publishing.

Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approache, hlm 5. California: Sage Publication, Inc.

Fernandez, Inyo Yos. 2004. “Asal Mula Orang Austronesia”, Polemik tentang Masyarakat Austronesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, hlm. 41-56.

Geldern, Robert von Heine. 1945. “Prehistoric Research in the Netherlands Indies”, Science and Scientists in the Netherlands Indies, edited by Pieter Honig and Frans Verdoorn, New York Board for the Netherlands Indies.

Handini, Retno. 2005. Foraging yang Memudar, Suku Anak Dalam di Tengah Perubahan. Yogyakarta: Galang Press.

Hoop, A.N.J. Th a Th Van Der. 1938. “De Praehistorie”, Geschiedenis Van Nederlandsch Indie, N.V. Uitgeversmaatschappij-Joost Van Den Vondel, Amsterdam.

Jacob, T. 1992. “Manusia Melayu Kuno”, dalam Seminar Sejarah Melayu Kuno, Pemda Tingkat I Jambi bekerjasama dengan Kanwil Departemen Kebudayaan Propinsi Jambi, 7- 8 Desember, hlm. 152-157

Jacob, T. 1976. Ras, Etnis,dan Bangsa dalam Areologi Indonesia. Kumpulan Makalah Ilmiah Arkeologi IX. Kediri, 23-28 Juli 2001: 3 – 4. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Kasnowihardjo, Gunadi H., 2012. “Temuan Manusia Austronesia di Pantura Jawa Tengah; Sebuah Kajian Awal”. Berkala Arkeologi Vol.33. Edisi No. 3. Yogyakarta: Balai Arkeologi, hlm 1-13.

Koentjaraningrat, 1982. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, Jakarta: Djambatan,

Masinambow, E.K.M. 2004. “Masyarakat Austronesia: Fakta atau Fiksi?”, Polemik tentang Masyarakat Austronesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Simanjuntak, Truman, & Hubert Forestier, 2004. “Research Progress on The Neolithique in Indonesia. Special reference to The Pondok Silabe Cave, South Sumatera”, Southeast Asian Archaeology.Quezon city: University of The Philippines.

Simanjuntak, Truman. 2010. “Penutur dan Budaya Austronesia” dalam Arkeologi Indonesia dalam Lintasan Zaman. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Simanjuntak, Truman. 2011. “Austronesia Prasejarah di Indonesia”, Austronesia & Melanesia di Nusantara, Penerbit Ombak, Yogyakarta.

Simanjuntak, Truman. 2015. “Progres Penelitian Austronesia di Nusantara”. Jurnal L Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Amerta vol.33, No. 1, Juni, hl. 25-44. Pusat Arkeologi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Soejono, R. P. 2008. “Zaman Prasejarah Indonesia”, Sejarah Nasional Indonesia I, Edited by Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto. Depantemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka.

Sofian, Harry Octavianus. 2010. “Jejak-Jejak Budaya Penutur Austronesia Di Sumatera Selatan”. Jurnal Papua Vol. 2. No.2/November. Balai Arkeologi Papua. Badan Pengembangan Sumberdaya Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, hlm. 103-110.

Sukendar, Haris. 1985. “Penelitian Kepurbakalaan (ekskvasi) di situs Bawah Parit, Sumatera Barat”, Laporan Penelitian , Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (no published).

Sukendar, Haris. 1985. “Penelitian Kepurbakalaan (ekskvasi) di situs Bawah Parit, Sumatera Barat”, Laporan Penelitian , Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (no published).

Sukendar Haris, dkk. 1984. “Tradisi Megalitik di Kabupaten Lima Puluh Koto Provinsi Sumatera Barat”, Laporan Penelitian , Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (no published).

Tim Peneliti Tradisi, 1986, ,”Penelitian Kepurbakalaan (Ekskavasi) di Situs Bawah Parit, Desa Koto Tinggi, Kecamatan Suliki Gunung Mas, Kabupaten Puluh Koto Sumatera Barat, Laporan Penelitian Arkeologi bidang prasejarah, Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Arkeologi Nasional, (no Published).

Tanudirdjo, Daud A. dan Bagyo Prasetyo, 2004. “Model “Out of Taiwan dalam Perspektif Arkeologi Arkeologi Indonesia”, dalam Polemik tentang Masyarakat Asutronesia: Fakta atau Fiksi? Prosiding Kongres Ilmu Pengetahuan VIII, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, hlm. 77—101.

Tim Peneliti Tradisi Megalitik Sumatera Barat, 1984. "Penelitian Tradisi Megalitik di Kabupaten Lima Puluh koto Sumatera Barat." Laporan Penelitian Arkeologi bidang prasejarah, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, (no published).

Triwurjani, Rr., 2011. Situs-Situs Megalitik di DAS Sekampung. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Triwurjani, Rr, dkk., 2012. “Sebaran Menhir di Kawasan Lima Puluh Koto ” dalam Tradisi Megalitik di Lima Puluh Koto. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, hlm. 29-57

Triwurjani, Rr, dkk., 2012. “Pusat Budaya Megalitik Kawasan Lima Puluh Koto” dalam Tradisi Megalitik di Lima Puluh Koto. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, hlm. 1-28

Triwurjani, 2012. “Ragam Hias ’Keluak Paku’ pada Menhir-menhir di Kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat. Arkeologi Untuk Publik Proceedings Pertemuan Ilmiah Arekologi, Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), Jakarta: Wedatama Widya Satra, hlm. 808-824.

Triwurjani, Rr., Harry Widianto, Ni Komang Ayu Astiti, Arfian. 2009. “Laporan Penelitian Pusat Budaya Megalitik Kawasan Lima Puluh Koto, Sumatera Barat, Kajian Budaya dan Manusia”, Riset Terapan Puslitbang Arkeologi Nasional, Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Triwurjani, Rr., Arfian, Sudarti, Nurul Laily, Efriyanto. 2010. “Laporan Penelitian Pengembangan Sistem Informasi Database Sistem Infromasi Arkeologi dalam Pola Sebaran Sumberdaya Arkeologi Kawasan Megalitik Lima Puluh Koto, Sumatera Barat”. Riset Terapan Puslitbang Arkeologi Nasional, Jakarta: Badan Pengembangan Sumber Daya Budaya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Kementerian Riset dan Teknologi. Kebudayaan dan Pariwisata dan Kementerian Riset dan Teknologi.

Vita, et.al., 2005. “Laporan Penelitian Arkeologi Bidang Arkeometri Situs Guguk Nunang Kawasan Megalitik Lima Puluh Koto”. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, (no published).

Widianto, Harry. 2008. The Dawn of Humanity in Sumatera: Arrival and Dispersal From The Human Remain Perspective (in pressed).

Yuwono Sudibyo, 1984. “Menhir di Kawasan Lima Puluh Koto: Sebuah Pengamatan Dalam Kebudayaan”, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

DOI: https://doi.org/10.30883/jba.v36i2.232
Abstract viewed = | 117 | times
PDF (Bahasa Indonesia) downloaded = | 62 | times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.